Tugas Kuliah

PERBANDINGAN ORIENTASI EKONOMI INTERNASIONAL

AMERIKA SERIKAT DAN VENEZUELA

Menarik sekali ketika kita membahas mengenai bagaimana perkembangan negara – negara di dunia. Berbicara mengenai Amerika Serikat terdapat sejarah panjang yang mengikutinya. Sistem ekonomi Amerika Serikat yang sering kita kenal dengan kapitalisme menjadi sistem ekonomi yang menghegemoni dunia, terutama pada awal 1990-an. Hal ini juga sempat di bahas oleh Francis Fukuyama dalam bukunya yang berjudul, The End of History and The Last Man. Perkembangan kapitalisme telah dijalankan melalui konsep neoliberalisme. Neoliberalisme ini mulai menjangkiti negara – negara dunia ketiga.

Dalam perkembangannya, resep – resep perbaikan ekonomi yang terkandung dalam neoliberalisme ternyata tidak mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dunia. Hal ini terlebih dirasakan oleh negara – negara dunia ketiga atau negara – negara berkembang. Ketidakmampuan neoliberalisme meninmbulkan dampak berupa perlawanan terhadap sistem ekonomi ini. Perlawanan ini bisa berupa kudeta terhadap pemerintahan – pemerintahan agen neoliberal dan sebagainya. Hal ini terutama nampak di negara – negara Amerika Latin. Gelombang perlawanan muncul dari negara – negara Amerika Latin, seperti Kuba, Venezuela, Bolivia. Venezuela bahkan sempat memproklamirkan dirinya sebagai negara yang menganut sosialisme abad 21.

Berdasarkan dari hal di atas, maka penulis merasa tertarik sekali untuk membahas mengenai perbandingan sistem ekonomi Internasional berikut perkembangannya yang secara berbeda dianut oleh 2 negara yaitu Amerika Serikat dan Venezuela.

  1. Orientasi Ekonomi Amerika Serikat

Untuk melihat secara lebih jelas bagaimana sistem ekonomi di Amerika Serikat berjalan, maka perlu dibahas mengenai bagaimana prinsip – prinsip yang terkandung dalam sistem ekonomi tersebut serta bagaimana prakteknya.

Terlebih dulu akan dipaparkan data – data mengenai praktek ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Untuk mempermudah dalam proses analisa, maka penulis mengambil praktek ekonomi yang dilakukan di negara – negara Amerika Latin.

  1. Awal munculnya Hegemoni Ekonomi Amerika Serikat

Masuknya Amerika Serikat (AS) dalam kawasan Selatan mempunyai sejarah yang sangat panjang, semenjak dikeluarkannya Doktrin Monroe dalam pidato presiden Amerika Serikat James Monroe pada tahun 1823. Namun, ketika Doktrin Monroe runtuh, Amerika mulai terlibat dalam percaturan politik internasional. Dimulai dengan keterlibatannya dalam Perang Dunia II, Amerika mulai menanamkan hegemoninya. Pasca perang Dunia II muncul dua blok yang sama-sama kuat yaitu AS dengan idiologi Liberalnya, dan Uni Soviet dengan idiologi Komunisnya. Pada masa-masa ini AS dan Uni Soviet terlibat dalam pertikaian idiologi, dan pertikaian ini dimenangkan AS. Perkembangan selanjutnya muncul institusi penunjang pasar bebas seperti WTO, IMF dan World Bank.

Dengan adanya lembaga-lembaga ini, AS mulai membangun hegemoninya di negara-negara berkembang. Isu-isu mengenai dekolonisasi dan demokratisasi mulai digunakan AS untuk melaksanakan berbagai macam program pembangunan seperti penyediaan bantuan pembangunan bilateral maupun multilateral dengan sarana publik maupun swasta. Sehingga negara-negara berkembang termasuk Amerika Latin yang relatif masih pada tahap pemulihan politik maupun ekonomi pasca perang Dunia II tergantung pada bantuan keuangan dan bantuan teknologi dari negara-negara industri seperti AS.

Lepasnya Amerika Latin dari pengaruh Eropa membuat intervensi AS semakin meluas di AL. Amerika Latin merupakan sumber bahan mentah sekaligus pasar bagi industri AS, dan untuk menyelamatkan investasinya banyak strategi yang harus dilakukan salah satunya dengan alasan menegakan stabilitas politik di negara-negara Amerika Latin membuat AS harus melakukan intervensi langsung ke Amerika Latin. Serangan besar-besaran AS terhadap negara-negara Amerika Latin dimulai pada tahun 1912 dan sejarah mencatat terjadinya berbagai pertempuran para serdadu AS dengan para penentang imperialisme AS. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan AS juga ikut berpartisipasi dengan menguasai perekonomian negara-negara Amerika Latin. Pada awal Perang Dunia Pertama, tidak ada lagi wilayah di Amerika Latin yang tidak dikuasai AS baik dari sisi militer maupun ekonomi1


  1. Praktek Ekonomi Neoliberal Melalui Utang

Di awal abad ke-20 bahkan hingga dewasa ini Amerika Latin tetap menjadi bagian dari politik halaman belakang (backyard policy) negara adikuasa Amerika Serikat. Peranan Amerika Serikat di Amerika Latin dalam banyak hal mirip dengan pola kekuasaan para caudillo yang berpikiran maju. Misalnya saja, tentara AS menstabilkan politik, membangun infrastruktur ekonomi, tetapi dalam kerangka mendukung investasi AS lebih lanjut. Sehingga hal ini dapat menguntungkan yakni para investor asing dan orang-orang pemilik modal di Amerika Latin yang sebelumnya telah menguasai tanah, modal, dan hubungan baik dengan penguasa maupun kapitalis asing. Dengan demikian terjadilah kerjasama antara pemilik modal lokal, dan pemerintahan dengan pemilik modal asing. Bahkan bantuan militer dari AS juga diberikan kepada pemerintahan di negara-negara Amerika Latin dalam upaya menggabungkan tumbuhnya kaum pemodal Amerika Latin dengan kepentingan strategis serta kepentingan ekonomi swasta AS.

Perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat dengan dukungan penuh pemerintah AS mulai menguasai pasar Amerika Latin. Berbagai perusahaan transnasional berinvestasi ke negara-negara berkembang di Amerika Latin dan mulai membentuk basis sosial politik dangan modal yang mereka miliki. Dengan adanya keberhasilan reformasi sosial yang dibangun di atas intervensi politik lewat militer, maka dengan pola seperti ini dapat dikatakan neoliberalisme dapat tumbuh subur di Amerika Latin. Dan dimulailah Tatanan Ekonomi Baru yang selama ini berdasarkan pada Washington Consensus (WC), yang tak lain merupakan panduan mengembangkan pasar bagi seluruh negara di dunia.

Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan seperti; menjamin disiplin fiskal, mengurangi belanja publik, reformasi pajak, liberalisasi finansial, mendorong nilai tukar yang kompetitif, liberalisasi perdagangan, melancarkan investasi asing, privatisasi perusahaan negara, deregulasi ekonomi, dan perlindungan terhadap property right. Semula kebijakan-kebijakan ini menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. Lalu IMF mengekspor WC ini ke negara-negara berkembang termasuk Amerika Latin dengan melalui Structural Adjustment Program (SAP).

Selama dua dekade Amerika Latin menjalankan pembangunan dengan menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut. Negara-negara selatan ini terus saja dicekoki, dan harus selalu mendengarkan hanya satu wacana simplistik yang hanya menghasilkan satu kebijakan bahwa deregulasi pasar, swastanisasi maksimum dan lepas campur tangan negara dalam aktivitas ekonomi merupakan prinsip-prinsip yang menguntungkan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial. Perusahaan-perusahaan transnasional mulai menguasai perekonomian di AL, bahkan selama dua dekade itu IMF telah merancang tatanan ekonomi AL yang jelas saja program yang mereka buat akan menghambat kemajuan negara-negara AL karena mereka akan sangat tergantung pada hutang.

Eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan tak berkelanjutan yang dilakukan telah menciptakan elit-elit lokal yang koruptif. Fenomena ini selanjutnya berdampak pada distribusi pendapatan yang sangat timpang. Memang dalam beberapa saat hal ini dapat membangun AL sehingga angka pertumbuhan ekonomi negara-negara di AL pasca Perang Dunia ke II sangat tinggi, namun apa yang terjadi setelah mereka sangat tergantung pada hutang-hutang yang diberikan oleh lembaga donor, sehingga konsekuensinya Amerika Latin telah dibangun oleh modal AS yang kemudian meluluhlantakkan sumber-sumber ekonominya.

Saat ini benua yang kaya akan sumber daya alamnya ini berhutang banyak pada AS untuk pembangunannya, dan ini merupakan hutang perkapita tertinggi di dunia. Kita dapat melihat bagaimana pendapatan AL ternyata tidak sebanding dengan hutang-hutang yang harus dibayarnya dari tabel berikut ini:

Hutang dan Pembayaran Hutang Amerika Latin Tahun 1982-1998

(miliar dollar AS, rata-rata setiap tahun)2

Tahun

1980

1987

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

Hutang

$257

474

476

491

450

526

547

607

627

650

698

Persen GNP

36

66

45

45

42

37

35

30

35

33

3

Pembayaran Hutang

$30

47

41

39

37

38

35

36

35

33

3

Persen Ekspor

36

37

32

26

26

28

29

29

Sumber: Bank Dunia, World Debt Tables, 1994/1995; World Development Report, berbagai tahun; CEPAL, 1998b:25.

Dari tabel jelas sekali terlihat bahwa menjelang tahun 1998 total hutang luar negeri Amerika Latin membumbung sampai 698 miliar dollar, naik 67% sejak tahun 1987 saat krisis hutang mencapai puncaknya. Volume pembayaran bunga tahunan yang sangat tinggi kepada bank-bank AS menyebabkan modal potensial terkuras habis.

  1. Fenomena Krisis Utang dan Jalan Keluar Menurut Pandangan Amerika Serikat

Pada tahun 1980an, negara-negara Amerika mengalami krisis utang. Krisis utang inilah yang menyebabkan AL tenggelam dalam “lost decade” (dekade hilang) pertumbuhan ekonomi, diadopsinya berbagai program penyesuaian stabilisasi dan struktural dengan IMF, dan menyebarnya evaluasi-ulang intervensionis, strategi-strategi perkembangan turunan. Pada tahun 1984 AS secara unilateral menurunkan tarifnya terhadap beberapa negara di kepulauan Karibia, sebagai bagian dari Inisiatif Kepulauan Karibia (Karibbean Basin Initiative).

Di sepanjang tahun 1980-an, modal global digunakan untuk menghasilkan kekayaan di negara-negara maju, sementara itu pinjaman-pinjaman bank utamanya dikucurkan ke negara-negara berkembang. Namun pada tahun 1990-an, arah dan komposisi aliran modal berubah secara signifikan, dan ada pergeseran relatif kearah investasi modal dalam bentuk portofolio dan langsung. Aliran investasi langsung pada tahun 1990-an meningkat hampir 223% di seluruh dunia, tetapi di AL angka peningkatannya mendekati 600% sehingga proporsi keberadaan perusahaan-perusahaan transnasional tidak sepadan didalam ekonomi Amerika Latin.

Negara-negara Amerika Latin telah bergantung pada modal dari luar sejak abad ke-19. Sehingga hal ini berdampak pada fluktuasi arus modal dan angka pertumbuhannya. Dengan kondisi seperti ini bisa saja sewaktu-waktu Amerika Latin dapat naik angka pertumbuhan ekonominya seperti pada tahun 1973 yang mencapai 8% per tahun, tetapi pada tahun 1983 menurun drastis sampai dibawah 2% per tahun dan berfluktuasi dengan hebat sesudahnya. Perekonomian di Amerika Latin sangat rentan terhadap goncangan-goncangan eksternal, seperti krisis moneter pada tahun 1990-an dimana hal ini tidak dapat dikuasai oleh sistem sosial politik dan pemerintahan. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap pinjaman luar negeri berdampak pada inflasi tinggi dan kebijakan deflasi hebat yang dibebankan terhadap pemerintahan lokal oleh sistem keuangan internasional.

Modal yang berbentuk pinjaman ini sangat tidak efektif untuk memajukan perekonomian Amerika Latin. Sehingga yang terjadi banyak dari perusahaan-perusahaan lokal yang terpaksa gulung tikar atau merger dengan investor-investor asing akibat tidak mampu mengembalikan pinjaman berjangka modal tersebut. Sektor-sektor industri kunci dan perusahaan-perusahaan terbesar akhirnya menjadi milik perusahaan investor, yang kebanyakan adalah MNC-MNC milik AS. Menjelang tahun 1999, lebih dari 33 dari 100 perusahaan terbesar di Amerika Latin menjadi milik perusahaan AS3. Dan dengan demikian, AS benar-benar menjadi salah satu negara yang mengontrol kekuatan ekonomi di Amerika Latin.

Tidak hanya sebatas pemberian hutang dan investasi langsung yang merupakan sumber keuntungan AS dari Amerika Latin. Hanya dengan memberikan sedikit modal ke negara-negara Amerika Latin, AS dapat mengeruk keuntungan yang banyak, salah satunya adalah pembayaran biaya royalti dan lisensi. Upaya AS untuk memberikan usulan-usulan “hak kekayaan intelektual” (intelectual property) dalam GATT pada putaran Uruguay berkaitan erat dengan fakta bahwa pembayaran biaya royalti dan lisensi menjadi semakin penting bagi neraca pembayaran Amerika Serikat.

Berdasarkan pemaparan mengenai orientasi ekonomi Amerika Serikat, maka penulis ingin membuat kesimpulan mengenai prinsip – prinsip yang dipegang oleh Amerika Serikat dalam menjalankan orientasi ekonominya, yaitu :

  1. Ekspansif

Dalam pemaparan di atas, telah disebutkan bagaimana praktek dominasi ekonomi Amerika Serikat telah dijalankan di negara – negara lain. Ini merupakan salah satu bukti prinsip ekspansif yang dipegang oleh Amerika Serikat dalam menjalankan praktek ekonominnya.

Prinsip ekspansif ini mengandung unsure yang negative dikarenakan tujuan dari proses ekspansi ke negara lain ini adalah bagaimana Amerika Serikat dapat menguasai kekayaan sumber daya alam di negara tersebut. Melakukan penjajahan dengan model baru di negara – negara dunia ketiga atau negara – negara berkembang yang salah satunya melalui utang.

  1. Akumulatif

Yang dimaksud dengan prinsip akumulatif di sini yaitu prinsip kerja yang terkandung dalam orientasi ekonomi Amerika Serikat yang melandaskan pada akumulasi modal. Pemupukan modal secara terus – menerus. Konsekuensi dari prinsip ini yaitu, faktor – faktor yang dapat mengurangi keuntungan atau modal tidak boleh terjadi.

Oleh karena itu, tidak heran jika dalam praktek – praktek yang dijalankan oleh Amerika Serikat tidak mengedepankan bagaimana kesejahteraan rakyat bisa tercapai. Karena pembiayaan akan kesejahteraan rakyat akan senantiasa mengurangi modal.

  1. Orientasi Ekonomi Venezuela

Berbicara mengenai Venezuela, maka akan sangat dekat sekali dengan perkembangan negara – negara Amerika Latin dalam menentang dominasi orientasi Ekonomi Amerika Serikat. Oleh karena itu, di sini penulis mencoba untuk mengambil contoh orientasi ekonomi Venezuela sebagai pembanding bagi orientasi ekonomi yang dijalankan oleh Amerika Serikat.

  1. Nasionalisasi Industri : Langkah Venezuela keluar dari dominasi ekonomi AS

Venezuela merupakan salah satu negara yang mempunyai peran penting dalam perubahan praktek ekonomi dan politik negara – negara di kawasan Amerika Latin untuk keluar dari belenggu Amerika Serikat. Dua peristiwa penting yang melatarbelakangi kemunculan peran aktif Venezuela, hingga menjadi perhatian dunia adalah menasionalisasi PDVSA (Petróleos de Venezuela SA) di akhir tahun 2001 yang dilanjutkan dengan pemogokan para pengusaha dan serikat buruh pro pengusaha, serta dilanjutkan dengan kudeta terhadapnya pada bulan April 2002 yang hanya bertahan satu hari4. Sejak itulah AS menjadi jadi tetangga “tidak ramah” bagi Venezuela. Dapat dimengerti bahwa sejak 1977, sekitar 50 persen perusahaan-perusahaan raksasa di Venezuela memiliki “ikatan” dengan modal AS. Dalam setiap kesempatan Venezuela yang dipimpin oleh Venezuela selalu menentang terhadap kebijakan AS, bahkan tak segan-segan menyatakan bahwa alternatif bagi masa depan kemanusiaan di dunia adalah sosialisme yang selama ini disebutnya sebagai sosialisme Abad 21.

Meskipun Hugo Venezuela baru muncul sebagai presiden terpilih Venezuela dalam tahun 1998, tetapi makin jelas bahwa ia dianggap salah satu di antara pemimpin kiri anti-imperialis AS yang paling berbahaya di mata Washington. Sebab, ia berkuasa di negeri yang penduduknya cukup besar, yaitu sekitar 25 juta orang, dan kaya sekali dengan minyak bumi. Produksi minyak Venezuela per harinya berkisar sekitar 2,7 juta barrel dan sebagian terbesar dari padanya diekspor. Sebanyak 80% dari seluruh pendapatan dari ekspor berasal dari sektor minyak. Kira-kira 12% sampai 14% dari seluruh impor minyak AS berasal dari Venezuela. Venezuela merupakan penghasil minyak nomor 5 di dunia, sesudah Saudi Arabia, Rusia, AS, Meksiko5

Yang tidak menyenangkan Washington, bukan saja Hugo Venezuela membikin rakyat Venezuela menjadi anti-AS, tetapi juga karena politik anti-AS-nya telah “menular” ke berbegai negeri Amerika Latin. Sosoknya sebagai pemimpin kiri yang anti-AS sangat menonjol di antara berbagai pemimpin-pemimpin atau presiden Amerika Latin. Ia bahkan sudah menganjurkan melalui Forum Sosial Sedunia di Caracas, agar gerakan sosial di berbagai negeri ditingkatkan dan diiringi dengan strategi pengambilan kekuasaan, seperti yang dilakukan oleh Evo Morales di Bolivia. Citra yang baik Hugo Venezuela di berbagai negeri Amerika Latin juga didukung oleh kesediaan pemerintahannya untuk membantu atau mengadakan kerjasama dengan hubungan yang saling menguntungkan dan tanpa dominasi. Hubungan yang erat sekali adalah dengan Kuba, dengan ditandatanganinya sejumlah besar perjanjian kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Kerjasama yang dibangun dengan Kuba diantaranya supply minyak sebanyak 53.000 barrel per hari, yang merupakan setengah dari kebutuhan Kuba per harinya. Sebaliknya Kuba membantu Venezuela dengan pengiriman 20.000 tenaga kedokteran dan personil medikal untuk banyak poliklinik dan rumahsakit, 6.500 pelatih olahraga, 2.000 guru untuk pemberantasan buta-huruf. Dengan berbagai negeri Amerika Latin lainnya Venezuela juga mengadakan kerjasama erat, antara lain dengan Bolivia, Argentina, Peru, Equador, Brasilia, Chili dan daerah Karibia6.

Venezuela mendapat dukungan dari banyak pemimpin-pemimpin kiri lainnya, terutama Presiden Bolivia, Evo Morales. Pemerintahan ini juga langsung membangun kerja sama dengan Venezuela dalam hal perminyakan, serta dengan Kuba dalam program pendidikan dan kesehatan, untuk memenuhi kebutuhan rakyat Bolivia. Terpilihnya Morales sebagai Presiden Bolivia merupakan puncak dari gelombang gerakan sosialis baru Amerika Latin, yang menimbulkan kekhawatiran besar bagi Gedung Putih. Kondisi ini terjadi di saat musuh besar AS lainnya yang beraliran sosialis, Fidel Castro, hingga kini masih berkuasa di Kuba.

  1. Pembangunan Ekonomi untuk Kesejahteraan Rakyat dan Negara lain

Kemajuan ekonomi dan politik Venezuela, dengan tanpa bantuan dari pinjaman-pinjaman AS secara langsung maupun tidak langsung, turut menyebarluaskan sentimen populis pada rakyat maupun calon-calon pemimpin Amerika Latin selanjutnya. Seperti Olanta Humala, walaupun kalah dari Alan Garcia, mampu memobilisasi dukungan 22% suara (kebanyakan dari mayoritas rakyat miskin Peru); Michelle Bachelet (Chile) juga menggunakan sentimen serupa; Lopez Obrador dari Mexico, yang kalah tipis dari lawannya, Felipe Calderon yang dianggap mewakili kelompok kaum kaya Meksiko. Aliansi Kuba, Venezuela, dan Bolivia memberikan efek domino yang sangat signifikan bagi negara-negara Amerika Latin lainnya.

Dapat dikatakan keberhasilan pemerintahan sosialis di Venezuela merupakan salah satu faktor yang mendorong berkembangnya paham sosialis baru di Amerika Latin. Keberhasilan Presiden Hugo Venezuela baik di dalam maupun di luar negeri telah membuat Venezuela sebagai idola bagi negara-negara Amerika Latin lainnya. Reformasi ekonomi dan politik yang dilakukan Venezuela dan usaha pemerintah negara itu untuk mengentaskan kemiskinan serta memotong tangan-tangan asing yang mengeruk kekayaan di Venezuela, telah menimbulkan dukungan penuh rakyat terhadap Venezuela. Selain itu, usaha Venezuela untuk meningkatkan persatuan di antara negara-negara Amerika Latin dan pengajuan tawaran penjualan minyak dengan kredit jangka panjang dan murah, telah menyebabkan negara ini memiliki posisi yang kuat dalam percaturan politik regional.

Pemerintah Venezuela juga berhasil masuk dan mengubah orientasi MERCOSUR yaitu kerjasama perdagangan minyak Argentina, Brazil, Paraguay, dan juga Uruguay dari sekadar blok perdagangan (minyak) yang mengejar profit menjadi blok untuk memajukan kehidupan masyarakat di Amerika Latin. Pada tanggal 29 April 2006, para pemimpin negara-negara Amerika Latin menghadiri Pertemuan Puncak MERCOSUR di Cordoba, Argentina7. Meskipun Kuba bukan merupakan anggota dari MERCOSUR, tetapi dalam pertemuan ini dihadiri oleh Fidel Castro, Presiden Kuba. Kehadiran Castro dalam acara itu untuk meminta Kuba bergabung , dan diperkirakan akan bisa menjalin kesepakatan pasar bersama, khususnya kerjasama untuk menghadapi embargo AS yang terus berlanjut.

Dalam menghadapi embargo ekonomi AS selama empat dekade, Kuba mendapat dukungan dari Venezuela. Itu berarti Kuba dan mitranya perlu berupaya membentuk pasar perdagangan bersama untuk menghindari dampak embargo AS. Blok perdagangan negara-negara AL ini memiliki populasi lebih dari 250 Juta jiwa. Jumlah produk domestik bruto (PDB) mencapai lebih dari satu triliun dolar AS dan nilai perdagangan regional melampaui 300 miliar dolar AS.

  1. Pembentukan Blok Ekonomi Alternatif

Landasan sejarah Amerika Latin yang sulit disatukan merupakan suatu pembelajaran bagi Venezuela maupun Kuba untuk membentuk suatu blok perdagangan Amerika Latin. Maka Venezuela bersama Kuba mencoba membangun blok Amerika Latin yang bukan hanya bergerak pada ekonomi, tetapi juga berperan sebagai sebuah aliansi politik yang diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk mengintegrasikan negara-negara di AL. Selain itu, bagaimana blok ini juga dapat memfasilitasi kepentingan-kepentingan negara-negara Amerika Latin, terutama satu persoalan bersama yaitu keluar dari krisis berkepanjangan. Dalam rangka terciptanya dunia yang multipolar inilah Hugo Venezuela dan Castro dengan giat mendorong terbentuknya komunitas Amerika Latin dan menganjurkan perlawanan terhadap neo-liberalisme yang selama ini diterapkan di Amerika Latin.

Mar del Plata, Argentina, menjadi saksi keberhasilan Venezuela dan Kuba mengkonsolidasikan penolakan terhadap blok perdagangan yang digawangi AS yaitu FTAA dan sekaligus mendeklarasikan ALBA. Lula Presiden Brazil, dan Kirchner Presiden Argentina, berhasil didorong menandatangani kesepakatan tersebut. Pada awalnya Presiden Lula da Silva dan Presiden Argentina Kirchner, menyatakan mereka tidak berseberangan dengan FTAA tetapi mereka menuntut perjanjian tersebut menghapuskan subsidi agrikultur Amerika, cadangan akses yang efektif kepasar luar negeri dan kesepakatan tentang kebutuhan dan sensibilitas anggotanya8.

Bersama gerakan rakyat anti imperialisme yang tumpah ruah di jalan-jalan Argentina, Hugo Chavez berhasil membuat pemimpin-pemimpin negara yang semula mendukung perdagangan bebas AS menjadi sepakat dengan nota pembentukan ALBA. Keanggotaan ALBA terus bertambah dari hanya Venezuela dan Kuba, disusul Bolivia dan Nikaragua. Masuknya Bolivia ke ALBA, menurut Presiden Bolivia, Evo Morales dilandasi keinginan untuk menciptakan agenda bersama serta meraih peluang keuntungan politik dan ideologis melalui perdagangan dan ekonomi.

Berdasarkan pemaparan mengenai orientasi ekonomi Venezuela, maka penulis ingin membuat kesimpulan mengenai prinsip – prinsip yang dipegang oleh Venezuela dalam menjalankan orientasi ekonominya, yaitu :

Orientasi ekonomi pada perdagangan yang adil

Melihat dari bagaimana praktek – praktek kerja ekonomi yang dijalankan oleh Venezuela, seperti nasionalisasi industri serta pembangunan blok – blok alternative menunjukkan bahwa praktek perdagangan yang dilakukan tidak hanya bergantung dari siapa yang mempunyai modal, akan tetapi juga melihat bagaimana proses kesejahteraan masyarakat luas dapat tercapai melalui proses perdagangan yang adil.

Orientasi ekonomi Venezuela juga mengarah pada pembangunan blok – blok ekonomi alternative. Blok ekonomi ini yang akan menjadi counter hegemoni dari sistem ekonomi yang tidak berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas.

1 Gelombang Perlawanan Anti-Imperialisme di Amerika Latin.

http://indonesian.irib.ir/POLITIK/ 2008/mei08/imperialisme.htm

2 James Petras dan Henry Velt Meyer, Imperialisme Abad 21. Kreasi Wacana; Yogyakarta. 2002. Hlm 143

3 James Petras dan Henry Velt Meyer, Imperialisme Abad 21. Kreasi Wacana; Yogyakarta. 2002. Hlm 146

4 A. Umar Said. Dapatkah Presiden Hugo Chavez Dijatuhkan Washington?. Paris, 6 Februari 2006.

5 Sumber: www. Pembebasan Online – Dapatkah Presiden Hugo Chavez Dijatuhkan Washington?.htm. Waktu mengakses: Minggu, 4 Mei 2008: 11.00 WIB.

6 Zely Ariane. Hugo Chavez Berhasil Melawan AS. Pikiran Rakyat, 26 Mei 2006; http://www.pikiran – rakyat. Com/cetak/2008/052008/-26/0903.htm.

7 Mohammad Shoelhi, Di Ambang Keruntuhan Amerika. Grafindo ; Jakarta. 2007. Hlm: 135

8 FTAA Histories: http://en.wikipedia.org/wiki/FTAA#history_pre-1994. Akses: Sabtu, 03 Mei 2008; 21.35WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s